Cerita Dini Hari

Belakangan ini aku lebih suka diruma, berdiam diri mamanjakan tubuh dengan bantal guling serta alas kasur yang tidak begitu lebar namun cukup untuk badanku yang mungil.

Begitulah hari-hariku selepas bekerja seharian penuh dan libur kuliah semester ganjil, tak terasa sudah hampir setengah bulan ini aku melakukan rutinitas yang tak jelas dan tak berfaedah karena menurutku banyak waktu yang terbuang tetapi tetap dijalani yaaah namanya juga manusia hehehehe.

Biasanya aku sibuk diluar rumah sampai larut malam, menghabiskan waktu dengan aktivitas belajar dan bertukar pikiran baik sesama teman kerja atau teman kuliah dikampus,  dan sampe rumah tak pakai lama lagi lepas baju cuci muka matikan lampu langsung pelor (nempel bantal molor)  ehh ada yang ketinggalan biasanya pake autan dulu baru langsung tidur tanpa basa basi, besokannya bangun seperti itu lagi.

Ada baiknya juga si hidup seperti itu, jadi gak pernah berpikir macam-macam, dijalanin aja semuanya dengan ikhlas dan positif, ibarat air yang mengalir dalam sungai menuju lautan dan harus ingat dengan permukaaan. Gak kaya kebanyakan orang menjalani hidup ibarat air mengalir munuju sungai tapi lupa sama permukaan jadinya ngambang

Namun semakin hari aku suka dirumah semakin terasa, aku hanya memanjakan tubuhku saja tidak dengan isi kepala, isi kepalaku masih terus berpikir dan tersadar setelah berbincang bincang hangat dengan keluarga sehabis sholat magrib dan makan malam ala kadarnya. Ada ikan asin, sambal ulek dan lalapan, yang menjadi makanan kesukaan aku dan keluargaku, ini memang momen jarang dan beberapa hari ini menjadi sering. 

Sehabis mengisi perut hingga kenyang keluarlah kata demi kata, kalimat demi kalimat, paragraf demi paragraf dan kesimpulan demi kesimpulan dari empat kepala yaitu ayah,  ibu, aku dan adikku berkumpul  menceritakan keinginan dan harapan tidak sedikit juga menceritakan kejadian yang sudah dialami atau menceritakan orang lain semua bicara sampai mengundang gelak tawa, rasa terharu bahkan sedih.

Selepas dari obrolan ngalor ngidul kalo kata orang kampungku, aku mengambil kesimpulan dan garis besarnya, persoalan yang aku bilang aku hanya memanjakan tubuhku saja tetapi tidak dengan isi kepalaku, bagaimana tidak. Raut wajah bahagia setiap berkumpul denganku lalu aku melihat dengan mata naluriku, kedua orang tua menyimpan harapan  dan keinginan untuk cepat menikahkan putra pertamanya. 

Sempat memang sesekali juga terlontar pertanyaan pertanyaan menyinggung dalam gurauan candaan “kapan mau menikah a? ” pertanyaan yang sangat menyadarkan mengingat umur sudah beranjak tua.

Sejak itu juga kesukaanku ketika berada diruma sedikit tak lebih santai,  sebab isi kepala tak pernah berhenti memikirkan hal yang aku anggap candaan, dan kini kesadaran diriku lebih kuat akan hal itu.