Fenomena Alengka

Waktu yang paling aku mengerti akan kesedihanmu adalah rabu kekasih, temu senyum tanpa kata adalah caraku memahami kesepian dikedua kelopak matamu. Kala itu pertigaan alengka tangga lantai empat, aku menapaki lorong dengan kebisuan yang muram, kebisuan yang bermuara disekeliling keramaian dan kebingungan saat kedua bola mata kita saling bertatap. Kepadamu kekasih, yang selalu tidak bisa aku katakan dihadapanmu sebagain kesungguhan yang tersirat dari tiap pertemuan di rabu siang, menelusuri arti dari harapan dan kekosongan, sungguh ini adalah posisi yang tidak diinginkan siapapun manusia dimuka bumi ini. Tapi siang itu, di alengka tepatnya dekat lantai empat anak tangga, diam-diam doaku memanjat melalui helai-helai rambutmu yang tergerai angin rabu siang kala itu di alengka.
.
Ketahuilah kekasih, Hal yang paling membahagiakan dalam hidup ialah ketika manusia mampu mewujudkan harapannya. sehingga atas dasar kesedihan sehari-hari siang itu di alengka aku benar-benar bisa memaknai dari rabu. Tapi ternyata orang-orang di alengka lebih memaknai rabu sebagai “wednesday” kata mereka itu adalah nama panglima tempur dari kerajaan sebelah barat yang saat di medan peperangan selalu menggunakan topi koboi dan mengunyah lolipop. Tapi biar begitu alengka tetap menyenangkan buatku, terlebih dengan hadirnya rabu yang sekarang aku bisa benar-benar memaknainya bukan sebagai wednesday
.
Siang itu di alengka benar-benar menjadi seperti bait-bait puisi ala pujangga renaisan, kadang juga seperti naskah laila majnun di euroasia dan kalau aku benar-benar sedang sampai pada titik telaah paling jauh hadir juga kisah raksasa yang jatuh hati pada dewi yang berparas ayu lalu memperebutkannya dan akhirnya raksasa itu mati dengan sangat pejantan
.
 
Oleh : syahrian 
Cerpen mingguan