HIJRAHKU AWAL HIDUPKU

Bulan yang menjadi penghujung tahun, adalah awal hidupku yang sebenarnya, dengan diri yang jauh lebih baik dari bulan dan tahun-tahun sebelumnya.

”Assalamu’alaikum, bunda ayah, ila pulang” teriak naila seraya membuka pintu rumah.

“Wa’alaikumsalam, ila jangan teriak-teriak nak, ga boleh anak perempuan seperti itu”Ucap bunda memberi tahu naila.

“Eh iya bunda, minta maaf”Naila menyalimi tangan bundanya.

“Oiya bunda, ayah kemana? ko ga ada”Tanya Naila.

“Ayah kan masih kerja sayang”Jelas bunda.

“Astaghfirullah Naila lupa bunda hehehe”Naila menepuk dahi nya.

“Dasar masih kecil udah pelupa aja”Gumam bunda seraya berjalan ke dapur.

Naila langsung menuju kamar nya, dengan pintu berwarna coklat muda dan berhiaskan kerang-kerang kecil, tidak lupa untuk mengucapkan salam.

“Aduh cape banget sih, belum sholat ashar pula”Gumam Naila mengeluh dan berjalan ke kamar mandi yang ada dikamarnya, untuk berganti pakaian dan berwudhu.

Naila mulai memakai mukenah nya dan melaksanakan kewajibannya sebagai umat muslim, sholat fardu ashar.

“Usholli fardlol ashri arba’a raka’atim mustaqbilal qiblati adaa an lillahi ta’aala”Naila mulai melafalkan niat dengan bergumam pelan dan khusyu.

Bunda yang sedari tadi membuat jus manga, dan akhirnya selesai dan berniat untuk memberikan ke putri cantiknya.

“Alhamdulillah selesai”Gumamnya pelan dan membawa jus itu ke kamar putrinya.

“Naila, ini jus nya nak”

“Naila, bunda masuk ya nak”Panggil bunda seraya membuka pintu kamar anaknya.

“Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Assalamu’alaikum warahmatullahi   wabarakatuh”Gumam Naila mengucap salam diakhir sholatnya.

Alhamdulillah, tapi kapan Naila mau mengenakan hijab nya,Ucap bunda dalam hati.

”Eh bunda, kenapa bun?”Tanya naila seusai merapihkan mukenah nya.

“Enggak ko ga apa, Cuma mau kasih jus ini aja sayang”.

“ouh, makasih bunda, sini bunda duduk” Ucap naila seraya menepuk kasur sebelah tempat ia duduk, bunda nya pun duduk ditepian kasur bersebelahan dengan putrinya.

“Naila, berapa umur mu sekarang?” Tanya bunda dan mulai mengusap pelan rambut putrinya.

“17 tahun bunda, knapa bun?”

“Sudah besarkan? Kapan kamu memakai hijab mu nak?”Tanya bunda pelan.

Naila terdiam, benar dia belum menutup auratnya sebagai seorang muslimah. Tapi dia belum siap, teman-teman nya pun jarang sekali yang mengenakan hijab, ia takut jika ia memakai hijab akan membuatnya tak memiliki teman. Naila masih menundukan kepala nya dan membayangkan jika ia memakai hijab. Naila mulai menatap lemah bundanya lalu kmbali menunduk.

“Ila masih ragu bunda, ila takut”Jawab Naila dengan mata menatap lantai.

“Ila tatap bunda, apa yang buat kamu takut sayang?”Tanya bunda lembut seraya mengangkat dagu Naila.

“Ila takut teman Ila jauhin Ila”

“itu ga mungkin ila, justru nanti jika kamu berhijab kamu membawa pengaruh baik untuk mereka, kamu pikirkan ya ila, ingat menutup aurat bagi wanita itu wajib, bunda mau ke dapur dulu”Jelas bunda lembut kepada Naila.

“iya bunda”Gumam Naila lemah.

Naila mulai menghidupkan gadget nya dan mulai mencari beberapa firman Allah perintah untuk berhijab, dan terpampanglah Qs. an-Nur: 31, yang artinya:

Katakanlah kepada wanita-wanita mukminah, “Hendaklah mereka menundukkan pandangan mata mereka dan menjaga kemaluan mereka serta tidak menampakkan perhiasan mereka kecuali apa yang biasa tampak darinya Hendaklah pula mereka menutupkan kerudung mereka di atas leher-leher mereka dan tidak menampakkan perhiasan mereka kecuali di hadapan suami-suami mereka, atau ayah-ayah mereka, atau ayah-ayah suami mereka (ayah mertua)….” (an-Nur: 31).

Naila masih takut, dan terus berusaha meyakini dirinya untuk berhijab. Ia mau berhijab hanya saja ketakutan masih menyelimuti niat baiknya itu. Adzan maghrib pun terdengar sudah dikumandangkan, ia berjalan menuju ruang keluarga menghampiri bundanya untuk mengajak sholat berjamaah.

“Bunda, sholat berjamaah yu”Ajak naila kepada bundanya.

“Eh Ila, ayo”

Naila dan bunda mulai melaksanakan sholat jamaah berdua, dirumah, dan tidak lupa untuk berwudhu. Mereka melaksanakan sholat dengan khusyuk dan dipenuhi ketenangan.

“Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Assalamu’alaikum warahmatullahi   wabarakatuh”Ucap bunda sebagai penghujung sholat maghrib.

“Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Assalamu’alaikum warahmatullahi   wabarakatuh”Gumam Naila pelan mengikuti bunda sebagai imam, lalu menyalimi tangan sang bunda.

Mereka saling memanjatkan doa kepada Allah SWT. Mereka merapihkan mukenah nya, dan, menuju meja makan seraya menunggu sang ayah dan suami.

Tok tok tok tok, ketukan pintu terdengar.

“Assalamu’alaikum, bunda, Naila”Suara berat seorang lelaki terdengar.

“Wa’alaikumsalam”Jawab bunda dan naila serentak seraya berjalan kearah pintu.

“Eh ayah, ayo yah makan malam” Ajak bunda kepada ayah seraya menyalimi tangan sang suami dan mengambil tas kerja yang dibawa ayah.

“Iya ayo makan ayah sudah lapar”

“Ayah…salim”Ucap Naila dengan ciri khas suaranya, imut.

“Ayo baca basmalah dan doa nya terlebih dulu”Ucap ayah mengingatkan.

Mereka mulai menyantap makanan yang sudah dimasak bunda tadi, sungguh masakan ibu adalah masakan terbaik yang pernah kita santap sepanjang hidup, selalu nomor satu dan tidak tersaingi.

“Alhamdulillah, ayah bunda, Naila ke kamar duluan ya”Pamit Naila dan mencium tangan bunda dan ayah.

“Ayah, apa kita harus memaksa Naila untuk berhijab?”Tanya bunda kepada ayah setelah Naila menghilang dibalik pintu kamar.

“Lebih baik kita bicarakan lagi pelan-pelan dengan Naila”Jawab ayah

“Yasudah dibicarakan malam ini saja yah”Sahut sang bunda.

“Kalau Naila sedang belajar lebih baik besok saja bun ”

“Iya yah, ayo liat Naila dulu yah”Ajak bunda

“Iya ayo, tapi jangan lama-lama ayah mau mandi juga”Ingat sang ayah dan bunda menganggukan kepala tanda setuju.

Ayah dan bunda berjalan beriringan menuju kamar sang anak, Naila. Demi membahas hal tersebut.

“Assalamu’alaikum Ila, bunda ayah boleh masuk?”Tanya sang ayah.

“Wa’alaikumsalam masuk aja yah, bun”Jawab Naila dari dalam kamar

“Iya nak”Ayah dan bunda membuka pintu kamar Naila dan masuk ke kamar itu.

“Kenapa yah, bun?”Tanya Naila

“Kamu gada niatan untuk memakai hijab nak?”Tanya ayah pelan

Naila terdiam mendengar pertanyaan yang dilontarkan ayah nya, kembali merenungkan ayat Al Quran yang tadi ia baca. Naila ingin meyakinkan hatinya untuk berhijab apalagi ini sudah perintah langsung dari Allah dan orang tua nya pun sudah mengingatkannya berulang kali, sungguh hatinya sangat ingin berhijab.

“Iya bun, yah, Ila mau berhijab, InsyaAllah ini pasti yang terbaik buat Ila”Jawab Naila yakin seraya menatap kedua orang tuanya bergantian.

“Alhamdulilah, bunda bahagia banget Naila”Ucap syukur bunda, dan memeluk anak semata wayangnya juga disusul dengan ayah.

“Alhamdulillah, semoga istiqomah ya nak”Ucap ayah seraya mengusap kepala putrinya.

“Makasih bunda, ayah, karena sudah mau menuntun Ila di jalan-Nya yang benar dan lurus”

“Kembali kasih nak”Jawab bunda dan ayah serentak.

“bun yah ko kaya ada bau ga enak ya, bau aa ya kira-kira”Ucap Naila dengan hidung nya yang sedang mengendus-endus. Ayah pun yang sadar diri akhirnya memamerkan gigi nya dengan tersenyum lebar.

“Dasar ayah jorok, mandi sana”Ucap bunda dengan hidung yang diapit dengan jari telunjuk dan ibu jari.

Mereka pun tertawa bersama, tapi bunda dan ayah tak berhenti melafalkan hamdalah dan berterimakasih kepada Allah dengan bersyukur.

Dipenghujung tahun ini, aku memulai semuanya dengan lebih baik, dan inilah awal hidupku yang sebenarnya terimakasih ya Allah,Batin Naila berucap dengan tenang dan penuh rasa syukur.

 

Karya : Fadya Milla Zama (Remaja Muslim), Siswi MTsN Kota Depok.