Ketua Yayasan Yasporbi: Zonasi Diadopsi dari Negara Maju

Jakarta (28/6). Di tengah ramainya proses perjalanan penerapan sistem zonasi dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) di tahun ke-2 ini, sekolah-sekolah swasta justru kian gencar menampilkan “produk” unggulan lembaganya. Mulai dari penerapan bilingual dalam proses belajar mengajar juga peningkatan kualitas tenaga pengajar serta fasilitas sekolah.
 
Salah satu sekolah swasta di Kota Administrasi Jakarta Selatan yang berada dalam naungan Bank Indonesia (BI), yakni Sekolah Yasporbi, juga masih terus berbenah dan memperbaiki kualitas semua sisi yang mampu menjadi “pemikat” para calon peserta didiknya walaupun persaingan dengan sekolah negeri dengan anggaran besar kian kompetitif.
 
“Kami merasa bahwa penerapan sistem zonasi itu mulia, sekolah-sekolah milik negara yang dibiayai sama itu, harapannya memiliki kualitas yang sama bagusnya. Hal ini rasanya ingin mengadopsi sistem pendidikan di negara-negara Skandinavia yang sudah lebih maju, seperti di Finlandia misalnya, yang ada aturan zonasi dalam rangka mendekatkan siswa dengan sekolah, dan fasilitas pemerintah benar-benar menjangkau semua, tak perlu jauh-jauh untuk mendapatkan kualitas yang sama,” urai Ketua Yayasan Yasporbi Trisno Nugroho.
 
Meski sistem itu bagus, diakui Trisno Nugroho bahwa Yasporbi sebagai sekolah swasta, sistem zonasi belum terasa dampaknya secara langsung ke lembaganya. Mungkin, menurutnya beberapa tahun ke depan ada dampaknya. 
 
Sejauh ini, Trisno mengajak semua pihak untuk tetap mendukung upaya pemerintah, upaya negara dalam mencerdaskan bangsa. Bahkan jika memang ruang kelas di Yasporbi memungkinkan menyisihkan beberapa persen untuk menerima peserta didik yang tidak lolos seleksi pendaftaran online. Hal ini bisa jadi sebagai bagian dari kepedulian lembaga mendukung program pemerintah.