Peran Lembaga Swadaya Masyarakat “Edukasi Dasar” Dalam Memberikan Pendidikan Gratis Pra-Sekolah

 

Fauziah Indriati – 1515160112

Pendidikan Masyarakat A 2016

Fakultas Ilmu Pendidikan

Universitas Negeri Jakarta

Email : inrifauziah@gmail.com

 

 

Abstrak : Di zaman yang semakin maju ini, Pendidikan sudah menjadi program yang wajib dijalankan bagi setiap masyarakat, terkhusus bagi setiap anak. Namun masih kurang nya pengetahuan Orangtua yang berakibat pada kurang nya kesadaran Orangtua berdampak pada pendidikan seorang anak. Entah dari terlambatnya kesadaran Orangtua dalam memberikan Pendidikan Formal kepada sang anak, atau bahkan Orangtua sama sekali tidak memperdulikan Pendidikan Formal sang anak. Ternyata memang harus ada pihak yang membnatu dalam membangun semacam Pendidikan Formal bagi anak yang menjadi “korban” kurang nya kesadaran Orangtua dalam hal pendidikan. Lembaga Swadaya Masyarakat menjadi salah satu yang dapat diandalkan dalam memberikan pendidikan pra-sekolah bagi mereka yang dapat dikatakan terlambat dalam memperoleh pendidikan.

Kata Kunci : Lembaga Swadaya Masyarakat, Pendidikan Pra-Sekolah

 

Abstract : In this increasingly advanced age, Education has become a mandatory program for every community, especially for every child. However, parents’ knowledge that resulted in that was still lacking. Either from the late Parents in providing Formal Education to the child, or Parents do not care about the child’s Formal Education. It turns out that there must be parties who help in the development of Formal Education for children who are ‘victims’ who are less concerned about Parents in terms of education. Non-governmental organizations are one that can be trusted in providing pre-school education for those who can be returned in obtaining education.

Keywords : Non-Governmental Organizations, Pre-School Education

 

 

 

Pendahuluan

Tien Suryantini, seorang wanita paruhbaya yang sudah sejak lama bergelut di bidang Pendidikan. Beliau merupakan seorang pendatang dari daerah Jawa dan sudah cukup lama menetap di daerah Kota Depok. Sempat mengajar di Sekolah Dasar Negeri Pancoran-Mas 7 yang berlokasikan tidak jauh dari tempat tinggal nya. Namun tidak bertahan lama sebagai guru pada sekolah Formal, ibu Tien Suryantini pun memilih untuk berhenti mengajar dari sekolah yang sudah memberikan nya pengalaman tersebut. Selama beliau menjadi seorang guru di sekolah itu pun, beliau tidak pernah menerima gaji nya sedikitpun, beliau memilih menyerahkan gaji nya itu kepada pihak sekolah untuk dikelola demi kebutuhan murid-murid yang membutuhkan nya.

Pada tahun 1993, ibu Tien Suryantini mendirikan Lembaga Swadaya Mayarakat yang diberi nama LSM Edukasi Dasar. Pada wawancara (29/6/19) beliau menceritakan awal mula dalam mendirikan LSM Edukasi Dasar ini. Bermula ketika ada seorang anak yang juga tinggal disekitar rumah Ibu Tien, anak tersebut mencoret tembok pagar Ibu Tien dengan kata-kata yang tidak pantas, lalu beliau memanggil anak tersebut dan menanyakan tulisan apa yang yang sudah ditulisnya. Namun dengan terkejut, ternyata anak itu asal menulis dengan perintah dari oranglain, tanpa mengetahui tulisan apa yang sudah ditulisnya di tembok pagar Ibu Tien itu. Dari kasus ini lah Ibu Tien menawarkan kepada anak itu untuk belajar membaca dan menulis, dan dengan senang hati anak itu pun menerima tawaran Ibu Tien.

Sejak saat itu lah Ibu Tien memulai perjalan nya sebagai seorang guru, namun bukan lagi di Sekolah Formal seperti sebelumnya. Bukan lagi seusia anak Sekolah Dasar pada umumnya, murid pertama Ibu Tien ini sudah memasuki usia remaja, keinginan Ibu Tien dalam memberikan edukasi pada anak anak yang belum mampu calistung pun mendpat dukungan, selaian dukungan keluarga, dukungan lain nya berupa ternyata murid pertama Ibu Tien pun mengajak serta teman yang lain nya untuk bergabung belajar bersama, dan hal itu mendapatkan respon positif. Setelah dididik nya murid-murid itu, Ibu Tien pun memerintahkan seorang murid yang sebelum nya mencoret tembok beliau untuk membaca hasil coretan tangan nya itu. Ternyata si murid pun mengerti apa yang sudah di tulis nya itu.

Bukan hanya respon positif, namun banyak juga penilaian negatif hingga fitnah yang di dapatkan Ibu Tien selama berdirinya LSM Edukasi Dasar ini. Bahkan sempat vakum pada tahun 2003. Bersuamikan Dosen disalah satu Politeknik Negeri Ibu Kota, membuat Ibu Tien mendapat dukungan penuh, hingga pada akhirnya pada tahun 2005 LSM Edukasi Dasar ini sudah memiliki legalitas.

 

 

Kajian Teori

 

  1. Pendidikan Pra Sekolah

Pendidikan adalah suatu proses pembelajaran pengetahuan, keterampilan, dan kebiasaan melalui pengajaran, pelatihan, dan penelitian.

Secara umum, tujuan pendidikan adalah untuk mencerdaskan dan mengembangkan potensi di dalam diri para peserta didik. Dengan pertumbuhan kecerdasan dan potensi diri maka setiap anak bisa memiliki ilmu pengetahuan, kreativitas, sehat jasmani dan rohani, kepribadian yang baik, mandiri, dan menjadi anggota masyarakat yang bertanggungjawab.

Pendidikan prasekolah sangat penting bagi pembangunan mental psikis dan kemampuan bersosialisasi anak. Anak yang mendapatkan pendidikan prasekolah cenderung berhasil melewati setiap jenjang pendidikan formal. Dengan kata lain anak-anak yang pernah mengenyam pendidikan prasekolah memiliki peluang yang besar untuk berhasil ditahap pendidikan sekolah dasar.

Pengertian Pendidikan prasekolah adalah pendidikan yang diselenggarakan sebelum jenjang pendidikan dasar, baik melalui jalur pendidikan formal maupun nonformal. Dalam UU RI No.20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional, dijelaskan bahwa pendidikan prasekolah atau Pendidikan Anak Usia Dini adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia 6 tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut.

Berdasarkan undang-undang tersebut bapak-ibu sudah tahu bahwa alasan sekolah dasar untuk menerima siswa siswi dengan umur paling tidak 6 tahun Tidak sembarangan. Bukan alasan dibuat-buat atau alasan lain seperti tidak siap membimbing anak yang lebih muda. Undang-undang tersebut juga menerangkan bahwa diharapkan adanya rangsangan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani anak.

 

  1. Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM)

Lembaga swadaya masyarakat (disingkat LSM) adalah sebuah organisasi yang didirikan oleh perorangan ataupun sekelompok orang yang secara sukarela yang memberikan pelayanan kepada masyarakat umum tanpa bertujuan untuk memperoleh keuntungan dari kegiatannya.

Sebelum dikenal luas dengan nama LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat), maka telah dikenal istilah Ornop (Organisasi Non Pemerintah). Istilah Ornop yang muncul sekitar awal 1970-an, digunakan sebagai terjemahan dari NGO (Non Government Organization) dalam lingkungan internasional. Sedangkan LSM mulai digunakan sebagai istilah dalam sebuah seminar Ornop di gedung Yayasan Tenaga Kerja Indonesia pada tahun 1980, atas inisiatif Bina Desa, Walhi dan YTKI. LSM didirikan oleh perorangan ataupun sekelompok orang yang secara sukarela untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat umum tanpa bertujuan untuk memperoleh keuntungan dari kegiatannya.Organisasi ini dalam terjemahan harfiahnya dari Bahasa Inggris dikenal juga sebagai Organisasi non Pemerintah (Ornop) atau dalam Bahasa Inggris: Non-Governmental Organization (NGO).

Istilah LSM secara tegas didefinisikan dalam Instruksi Menteri Dalam Negeri (Inmendagri) No. 8/1990, yang ditujukan kepada Gubernur di seluruh Indonesia tentang Pembinaan Lembaga Swadaya Masyarakat. Lampiran II dari mendagri menyebutkan bahwa LSM adalah organisasi/lembaga yang anggotanya adalah masyarakat warga negara Republik Indonesia yang secara sukarela atau kehendak sendiri berniat serta bergerak di bidang kegiatan tertentu yang ditetapkan oleh organisasi/lembaga sebagai wujud partisipasi masyarakat dalam upaya meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan masyarakat, yang menitikberatkan kepada pengabdian secara swadaya.

 

Secara garis besar organisasi non pemerintah (LSM) dapat di lihat dengan ciri-ciri berikut ini:

  •  Organisasi ini bukan bagian dari pemerintah, birokrasi ataupun negara.
  • Dalam melakukan kegiatan tidak bertujuan untuk memperoleh keuntungan (nirlaba).
  • Kegiatan dilakukan semata-mata untuk kepentingan masyarakat umum, tidak hanya untuk kepentingan para anggota seperti yang di lakukan koperasi ataupun organisasi profesi.
  • Berdasarkan Undang-undang No.16 tahun 2001 tentang Yayasan, maka secara umum organisasi non pemerintah di Indonesia berbentuk yayasan. 

Metode

Hasil penelitian ini berdasarkan hasil observasi, wawancara, dan dokumentasi secara langsung. Subyek penelitian ini merupakan seorang pemilik dari Lembaga Swadaya Masyarakat Edukasi Dasar, yaitu Ibu Tien Suryantini. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif.

 

Hasil dan Pembahasan

Lembaga Swadaya Masyarakat Edukasi Dasar ini beralamatkan di Jl. Cagar Alam Sel., Ratu Jaya, Kec. Cipayung, Kota Depok, Jawa Barat 16439. Didirikan pada tahun 1993 oleh seorang wanita bernama Tien Suryantini yang kemudian LSM tersebut memiliki legalitas pada tahun 2005, setelah sebelum nya sempat vakum dalam waktu singkat.

Ibu Tien mendirikan LSM Edukasi Dasar ini karena melihat permasalahan yang terjadi pada lingkungan tempat tinggal nya, kurang nya kesadaran atas pendidikan hingga membuat buta aksara pada anak seusia remaja. Seperti hal nya Lembaga lain, LSM Edukasi Dasar ini memiliki visi-misi sebagai berikut:

  1. Edukasi Dasar memiliki visi untuk membebaskan bangsa Indonesia dari kebodohan demi kesejahteraan dan kemajuan bangsa Indonesia.
  2. Edukasi Dasar memiliki misi untuk membangun kesadaran masyarakat mengenai pentingnya pendidikan baik dalam institusi pendidikan formal maupun dalam keluarga dan masyarakat, memberikan pendididkan dasar yang bersifat informal dan terjangkau oleh segenap lapisan masyarakat, serta memfasilitasi upaya masyarakat untuk mendapatkan pendidikan formal.

 

Selama operasional, LSM Edukasi Dasar ini tidak sama sekali memungut biaya kepada peserta didik nya sedikitpun. Uang pribadi juga donatur lah yang akan menutup semua keperluan biaya operasional pendidikan di LSM Edukasi Dasar ini. Sang pengelola sekaligus pendiri LSM, ibu Tien pun tidak sembarangan dalam menerima donasi dari para donatur, dengan artian tidak mau ada unsur politik dan semacam nya, karena beliau murni mendirikan LSM Edukasi Dasar ini atas dasar sosial, jadi beliau pun ingin para donatur beralasan sama dengannya yaitu atas dasar sosial.

Hidup sebagai minoritas ternyata memang membawa banyak tantangan, terlebih Ibu Tien bukan merupakan penduduk asli. Banyak berbagai macam pandangan juga penilaian dari warga sekitar dengan hal yang dilakukan oleh Ibu Tien. Hingga fitnah pun sudah beliau hadapi selama berjalan nya LSM Edukasi Dasar ini. Namun berkat semangat dan konsistensi beliau, kini Ibu Tien pun mendapatkan buah manis atas kerja keras dan tulus nya itu. Ibu Tien kini sudah mendapatkan dukungan penuh oleh masyarakat sekitar dalam menjalankan program dari LSM yang sudah didirikan nya sejak tahun 1993 itu.

Namun sayang, ternyata tahun ini beliau sudah membulatkan niat nya untuk tidak lagi membuka pendaftaran. Bukan tanpa alasan, rupanya hal ini sudah difikirkan sejak beberapa tahun belakangan sejak dirinya jatuh sakit. Mungkin hal ini juga menjadi salah satu permasalahan yang terjadi di LSM Edukasi Dasar ini, kurang nya tenaga pengajar. Ibu Tien hanya seorang diri dalam mengurus LSM ini, mulai dari pengurusan administrasi hingga dalam mengajar peserta didik, tidak ada tenaga pengajar tetap yang lain nya selain beliau. Mungkin karena memang tidak adanya upah mengajar yang membuat Ibu Tien tidak memiliki tenaga pengajar yang membantu nya secara tetap. Cara mengatasinya yang dilakukan oleh Ibu Tien dengan mengajar sekaligus memperhatikan orangtua Peserta didik, disitulah Ibu Tien mendapatkan Partner kerja yang dinilai nya dapat sedikit membantu dalam kegiatan mengajar. Karena memang tidak sembarang orang yang dipilih oleh Ibu Tien untuk dapat bantu mengajar di LSM tersebut, selain tidak ada upah gaji, juga karena ada beberapa peserta didik yang “berbeda” dengan peserta didik pada umumnya.

Walau sudah tutup nya pendaftaran, Ibu Tien pun tetap memenuhi tanggung jawab walau harus dengan kondisi fisik yang sudah tidak se sehat dahulu, yaitu dengan tetap mengajar peserta didik yang masih tersisa di LSM tersebut hingga peserta didik tersebut dapat benar benar memahami dan mampu untuk calistung. Karena indikator keberhasilan yang ingin dicapai oleh Ibu Tien terhadap peserta didik nya ialah hingga si peserta didik mampu untu baca-tulis-hitung.

Juga untuk kedepannya, bukan tidak mungkin LSM Edukasi Dasar ini tetap berjalan, jika ada tenaga pengajar yang mampu dengan ikhlas untuk melanjutkan perjuangan dari Ibu Tien. Hal itu dikatakan langsung oleh beliau, mengingat sudah sejak lama beliau mendirikan LSM tersebut dengan segala perjuangan panjang nya.

 

Penutup

Terkadang harus ada yang di ikhlaskan demi kepentingan bersama, jiwa sosial pun harus dilatih sejak dini. Terkadang apa yang kita anggap remeh merupakan hal yang dicari oleh orang lain. Ibu Tien ini membuktikan bahwa dengan ke ikhlasan dalam menjalankan apa yang sudah diniatkan dengan baik maka akan terus bertahan walau dengan beribu cobaan yang harus dihadapi nya.

Mendirikan Lembaga Swadaya Masyarakat merupakan hal baik yang dilakukan Ibu Tien dalam memajukan pendidikan di Indonesia ini. Terlebih masih banyaknya anak yang belum mampu untuk membaca, menulis dan menghitung jika dibandingakn dengan anak lainnya yang seusia mereka.