SEVENTH HEAVEN

Mentari menyelinap masuk ke dalam kamar lewat ventilasi jendela. Terlihat seorang pemuda yang masih tertidur lelap dibalik selimutnya. Namun cahaya mentari mengganggu tidurnya itu.

“Jam berapa sekarang?” Ucapnya sambil mengucek matanya. “Oh, masih jam 9.” Lanjutnya, berniat ingin tidur lagi namun tertahan karena ada suara ketukan pintu.

“Kak? Sudah bangun?” Tanya bundanya yang hanya dijawab ‘iya’ olehnya.

“Sarapan yuk? Bunda udah bikin buat kakak.”

“Iya bun, aku beresin kasur dulu ya.” Jawabnya yang direspon ‘ok’ oleh bundanya.

Jeka pun mulai membereskan kasurnya dan menata rapih bantal dan gulingnya. Lalu cuci muka, ganti baju, dan bersiap untuk sarapan.

“Tumben bunda libur gini masak sarapan, hehe.” Ucap jeka sambil terkekeh.

“Yaudah besok bunda gak masak lagi.” Ketus sang bunda yang dibalas kekehan oleh Jeka.

“Kak, kamu gak main lagi? Sama teman-temanmu itu.” Tanya bunda sambil menikmati sarapan.

“Kan lagi Corona bun, jaga jarak kan? Masa main si.”

“Iya si, tapi kamu gak suntuk? Di rumah mulu? Yang biasanya kamu main sekarang cuman bisa chat doang.” Jeka diam. “jaga jarak bukan berarti putus silaturahmi juga kan? Bunda udah jarang liat kalian bareng.” Lanjut bundanya.

“Kapan-kapan main deh bun, hehe corona gini gak enak juga mau main.” Jeka tersenyum kecut. Bohong juga kalau ia tak rindu bermain dengan para sahabatnya itu. Lagi-lagi harus berfikir untuk sekedar mengajak mereka bermain.

Kamar

Jeka diam. Memandangi kaca jendela yang menghadap pas dengan taman kecil di rumahnya. Ia mendekati jendela, menarik gorden, lalu membukanya. Membiarkan angin sejuk menerpa badannya. Tak lama kemudian terdengar deringan suara telepon dari ponselnya. Ia langsung menghampiri ponselnya dan mengangkat panggilan telepon tersebut.

Ka, ada waktu gak?” kata orang di panggilan tersebut.

“Kenapa? Mau ngapain?” Jawab Jeka.

“Ke rumah aku yuk, bantuin hehe..”

“yeuh, emang boleh keluar? Corona tau! Ntar kenapa-kenapa.” Ujar Jeka dengan nada meledek.

“Aman kok, kan cuman main ke rumah gak keluar jauh. Panikan banget si.” Ketus orang seberang teleponnya itu. Jeka hanya terkekeh lalu setuju akan ke rumahnya.

Jeka segera ganti baju dan turun ke bawah dimana sang bunda sedang menonton acara tv kesukaannya.

“Bun!” Jeka menyolek bahu ibundanya yang dibalas raut kebingungan.

“Mau ke rumah Vincent, bantu beres beres loh ya bukan main.” Bundanya hanya mengangguk “kalau mau main juga gak apa-apa kok, bunda bosen lihat kamu di rumah diem terus.” Jeka hanya memutar bola matanya. “yaudah, Jeka ijin pergi dulu, assalamualaikum!”

Jeka niat pergi ke rumah Vincent dengan berjalan kaki, mengingat bahwa rumah mereka hanya berjarak beberapa blok rumah saja. Namun niat itu dia urungkan. Memilih untuk naik sepeda agar menghemat waktu juga.

Rumah Vincent.

“Assalamualaikum.” Teriak Jeka kala sudah sampai di depan gerbang rumah temannya itu.

“hush! Jangan teriak, aku denger kok. Sini masuk Ka.” Vincent membuka gerbang rumahnya, lalu menunggu Jeka memakirkan sepeda di halaman rumahnya.

“Ini angkat ya, trus nanti taruh aja di kotak itu.” Instruksi Vincent kepada Jeka yang hanya dibalas anggukan.

Jeka pun mulai mengangkat dan membuang beberapa barang sesuai perintah Vincent tadi. Namun ada beberapa barang yang tidak ia pindahkan karena ragu.

Terhitung sudah hampir 1 jam lebih Jeka membantu memindahkan barang temannya itu. Karena lelah, ia pun duduk di bangku yang tersedia serta meminum air putih yang diberikan oleh orang tua temannya itu.

“Udah selesai. Capek ya?” tanya Vincent pada temannya itu.

“Lumayan, kamu setiap bulan begini? Apa setiap minggu?” tanya Jeka.

“Lebih tepatnya setiap inget aja hehe..” kekeh Vincent yang dibalas muka datar oleh Jeka.

“Cent!” Vincent hanya menengok saat namanya dipanggil.

“itu.. kamu kangen gak? Kita main bareng? Sama yang lain juga.” Terdengar nada ragu dari pertanyaan Jeka.

“kangen dong! Masa enggak si? Kita udah jarang banget ngumpul sekarang asal kamu tahu!” Vincent menekankan kalimat terakhirnya. Jeka hanya tersenyum kecil mendengarnya. Memang benar, mereka juga saling rindu untuk sekedar berkumpul dan berbincang. Namun tak kunjung juga ada yang mengajak untuk berkumpul sampai sekarang.

“Aku mau ajak kita kumpul lagi.” Jeka menunjukkan raut bingung di wajahnya. Ternyata ada yang ingin mengajak mereka berkumpul.

“Semenjak Corona gini, kalian pada sibuk. Aku tanya buat kumpul banyak aja alasan, padahal juga gak ngapa-ngapain kan? Tapi susah.” Curhat Vincent.

“Aku mau, tapi benar. Kita udah susah dihubungi, udah sibuk sama urusan masing-masing. Padahal dulu kalau ada urusan ditinggalin demi kumpul ya haha.”

“ka.” Jeka menoleh.

“Gimana kalau kita sekarang ajak mereka kumpul?” Ide bagus, namun bukannya mendadak kalau begitu? Jeka bingung.

“Mendadak Cent.. kurang yakin mereka bakal mau.” Ujar Jeka dengan nada sedih.

“Bentar.” Vincent mengambil ponselnya. Membukanya, lalu membuka aplikasi chat dan mengirimi beberapa pesan di sebuah grup chat. Bahkan ponsel Jeka juga mendapatkan notifikasi pesannya. Belum dibuka pesannya pun Jeka tahu, pasti Vincent mengajak untuk berkumpul.

“Yakin? Bakal dateng?” Vincent ragu, tapi ia berusaha yakin 100%.

“Eh, bentar.” Vincent mengambil ponselnya, lalu terlukis senyum lebar di wajahnya. Ia menunjukkan layar ponselnya yang berisi percakapan dengan temannya itu. Dan Jeka juga ikut senang. Karena apa? Tentu. Semua sahabatnya mau ikut berkumpul.

“KAN! AKU BILANG JUGA APA!! MEREKA PASTI MAU!” Teriak Vincent karena bahagia.

“Lebih baik sekarang kita pikirin, kita mau kumpul dimana, jam berapa, dan lainnya.” Saran Jeka yang disetujui oleh Vincent.

Pukul 20.45, Bukit.

Kursi sudah tertata rapi. Tenda kecil sudah terbentuk. Beberapa kayu bakar pun sudah disusun dengan bentuk lingkaran dan beberapa tertumpuk di ujung rumah. Minuman dan bahan makanan juga sudah disiapkan rapih. Jangan lupa terlihat alat panggangan dan kipas yang terbuat dari rotan melengkapi acara kumpul para sahabat ini. Meski hanya kumpul biasa, namun ini patut dimeriahi mengingat mereka jarang untuk berkumpul.

“Udah semua?” tanya Jeka yang dibalas anggukan oleh Vincent.

“Ini kipas siapa yang bawa?” Jeka menunjuk dirinya sendiri. Vincent menggelengkan kepala.

“Kan bisa pakai kipas portabel ka.. kalau begini pegel yang ada..” Jeka hanya terkekeh, sedangkan Vincent mengambil kipas portabel yang dibawanya lalu disusun di meja dekat alat pemanggang. Sekarang semua sudah rapih, dan hanya tinggal menunggu teman-temannya datang.

Lokasi mereka sekarang di bukit. Mereka tidak ingin menyewa villa hanya untuk acara berkumpul seperti ini. Mereka juga berinisiatif untuk membuat acara ini murni buatan mereka.

“Woi!” Terdengar suara teriakan dari ujung bukit, dan benar itu Jimmy.

“Loh? Dateng sendiri? Kirain sama kak Agus.” Jimmy langsung duduk di kursi.

“Dia sibuk bawa gitar katanya, jadi aku duluan. Ini yang nyusun kalian sendiri?” tanya Jimmy, Vincent dan Jeka mengangguk.

“Eh udah pada dateng nih!” Kini Haru dan Juna yang datang. Haru membawa totebag yang berisi daging dan cemilan lain.

“Kak Haru kok bawa lagi? Kan aku udah sediain.” Haru tertawa lalu melihat daging yang disediakan Jeka. “Duh, ini kurang tahu! Mau kumpul makan segini aja tuh gak cukup Ka.”

Sambil menunggu yang lain, mereka pun berbincang sedikit. Apapun mereka bahas, mulai dari kejadian konyol, kenangan sekolah, hingga hal-hal aneh juga mereka bahas. Suasana menjadi semakin hangat, walaupun api unggun belum menyala. Suara tawa mereka memenuhi udara diatas bukit itu.

“Asik aja nih tanpa aku?” Tiba-tiba terdengar suara serak basah menghampiri mereka. Itu Agus.

“Woah udah rame ternyata ya!” kalau ini Jay, suaranya terdengar riang.

“Kelamaan kamu mah! Kita udah ngobrol banyak, sini!” Ajak Haru. Agus pun langsung duduk di kursi tengah dekat api unggun, lalu mengeluarkan gitar yang sedari tadi di gendongnya. Sedangkan Jay duduk di sebelah Agus. Mereka pun mulai mengobrol satu sama lain. Kadang juga suara tawa yang terdengar keras lalu suara batuk karena tertawa banyak.

“Nyanyi yuk! Gus! Turn on the music!” Ujar Jimmy yang disambut tawa oleh para sahabatnya itu. Agus mulai mengalunkan melodi lagu dari gitarnya. Disambung oleh suara vokal indah Jeka. Yang lain pun ikut menyanyi dalam alunan petikan gitar Agus.

“Aku lihat, tadi Juna bawa petasan. Ayo main!” Seru Jimmy kepada yang lain.

“Hah?? Serius dia bawa? Niat banget hahaha.” Kini Haru tertawa karena terlalu niat untuk memeriahkan acara kecil-kecilan ini. “Ayo deh! Lanjut sampai jam 12 ayo?” Semua orang serentak menjawab ‘ayo’ dan mulai mengambil petasan dan kembang api, lalu menyalakannya. Berbeda dengan Agus yang justru duduk diam sambil melihat momen para sahabatnya ini.

Malam ini, menjadi malam indah bagi 7 pemuda itu. Hari ini juga mereka merasakan lagi namanya kedekatan sahabat. Mereka terlalu bagus disebut sahabat, bahkan mereka sudah 7 tahun melewati kata ‘sahabat’.

 

Karya: Tiara Febianti Hidayah (Siswi MTsN Kota Depok)