THIS IS MY DESTINY

Tidak ada yang bisa memisahkan kita, jika itu terjadi aku akan menjemputmu lagi.
Namaku Jill Keysheva Nara, aku seorang dokter di sebuah rumah sakit ternama di kota. Aku sangat membanggakan pekerjaanku sebagai dokter, sering menangani pasien dengan baik, dan mengikhlaskan pasienku jika takdir berkata lain.
Namun semua terasa berbeda, seakan menampar diriku dengan sangat keras. Membuatku muak dengan semuanya termaksud diriku sendiri.
Mau kuperkenalkan kepada seseorang? Seorang gadis yang manis bernama Asna Salsabila, adalah adik sekaligus pasienku. Ibu dan ayah menitipkan dia padaku dengan berbagai harapan.
“Aku harap kau bisa menjaganya dengan setulus hati, nak,” kata ayah di kala itu.
“Baik, yah. Akan kujaga adikku dengan baik,” ucapku dengan senyuman tipis. Tentu saja, aku akan berikan yang aku bisa, itu prinsipku.
Asna yang malang, bisa dikatakan begitu. Namun, di matanya selalu tersirat banyak harapan, walaupun jika dilihat Asna hanya menatap ke satu titik tanpa berkutik. Semua manusia tau jika dia tak bisa melihat ke segala arah dengan baik, bahkan sempit untuknya menatap cahaya yang indah, dia tak bisa sepertiku maupun seperti orang kebanyakan. Dan kau tahu apa yang lebih menyedihkan dari semua ini? Penyakit Kanker usus besar yang membuat hidupnya tak bertahan lama. Aku tidak ingin Asna terluka, bila ia tahu semua akan membuatnya tersiksa. Sehingga kami menyembunyikannya.
Asna selalu bertanya dengan bau pekat yang diciumnya setiap hari, bau-bau yang terlalu dibenci oleh mereka yang sakit; rumah sakit. Kurang lebih setahun Asna bersamaku di sini. Jika bibirnya mengeluarkan pertanyaan itu, aku selalu memberikan jawaban yang sama, dengan tidak atau tanpa menyakitinya.
“Kau sangat spesial bagiku, aku ingin merawatmu di sini.” Ia percaya, sungguh adikku yang polos.
Penyakitnya ini selalu membuatnya merasakan gejolak tidak enak pada perutnya. Kubilang, “tidak apa Asna, kau memang memiliki masalah pada pencernaanmu. Kamu terlalu sulit untuk mencerna makanan.” Asna tidak bodoh, juga tidak sepolos yang terlihat. Walaupun Asna merasa aneh namun Asna tetap percaya padaku ini. Apa pun yang ia alami semua diserahkan padaku; aku malaikat penolong, katanya.
Asna sangat ingin melihat dunia, karena tepat 6 tahun lalu kecelakaan yang menimpanya berhasil merenggut penglihatan satu-satunya yang dimiliki.
“Kakak, jika kalau aku bisa melihat lagi hal yang pertama yang sangat ingin aku lihat adalah dirimu, kau pasti bertambah cantik seperti di pikiranku. Aku merasakannya dengan hatiku.”
Aku tersenyum. Terkadang air mata mendesak untuk keluar. Ia selalu membuat beban dan penatku hilang sehabis bekerja melayani pasien yang lain.
Jika aku menawarkan dirinya untuk menerima donor mata, adikku tidak mau, walaupun ia sangat ingin melihat lagi. Ia menolak dengan alasan yang membuat banyak orang tersentuh. “Aku tidak mau bahagia menikmati matanya, saat keluarga orang tersebut malah berduka karena kehilangan.” Asna baik, sungguh tulus. Ia tidak pernah menunggu orang mati untuknya agar dapat melihat lagi. Ia mengajarkan ketulusan yang seharusnya kupunya sebagai seorang dokter. Dan inilah dia ketika memiliki sisa waktu bertahan 13 bulan dari sekarang.

(13 bulan terakhir)
Setiap satu bulan aku selalu memberikan hadiah untuknya, cukup sederhana. Sebuah permintaan yang pasti akan aku wujudkan. Sederhana saja ia minta aku membuatkannya makanan yang lezat. Aku berhasil, ia makan dengan lahap. Kadang ia meraung karna perutnya terasa sakit.
“Perutku sungguh sakit, kak,” ucapnya sambil memegang perutnya. Aku berusaha tenang agar ia tidak khawatir ataupun takut. Tidak boleh, adikku tidak boleh sakit.

(12 bulan terakhir)
Hari ini sebenarnya aku sedang tidak enak badan, atau katakan saja aku sakit. Padahal hari ini aku berjanji membawakannya buket bunga atas permintaannya. Bunga itu ada di rumahku. Sebuah bunga Gardenia, yang kutahu bunga ini putih cerah dan beraroma manis, memiliki beberapa arti seperti kemurnian, cinta, dan kebaikan. Aku tidak ke rumah sakit. Maka dari itu, aku menitipkan bunga itu dengan ayah dan ibuku untuk diberikan kepada Asna. Ayah dan ibu menyempatkan untuk menjeguk Asna setiap hari, agar ia tidak merasakan sedih ataupun putus asa. Oh ya, Asna dijaga oleh dokter lain. Namun dalam lubuk hatiku yang terdalam, aku merasa tidak rela jika Asna dijaga dengan orang lain.

(11 bulan terakhir)
Pertama kalinya aku berjalan malam bersama Asna ketika ia sedang sakit, itu pun tidak terlalu jauh dari rumah sakit. Dulu sebelum Asna menderita penyakit ini, ketika kita berdua sedang tidak ada kerjaan kita selalu ke taman dekat rumah. Hanya untuk menghilangkan rasa bosan saja.
Aku terus mendorong kursi rodanya menelusuri jalan. Asna mendengar banyak kendaraan yang lewat berlalu lalang dan bisik bisik orang yang sedang mengobrol. Dia ingin menggandeng tanganku berjalan keliling kota tanpa kursi roda ini. Jika itu terjadi dia akan sangat bahagia.
Walaupun tidak seperti itu, dia tetap mensyukuri semuanya.
Tak beberapa lama….
Sakit Asna kambuh, aku panik. Aku meminta orang untuk membantuku. Asna menahan tanganku. “Tidak apa-apa kak ini hanya sakit biasa,” ucapnya sambil menahan rasa sakit.
“Engga, Dek!!!” Aku semakin panik.
“Tapi kakak sendiri yang mengatakan padaku, jika perutku sedang sakit kita tidak boleh panik.” Aku terdiam sesaat dan berusaha menyembunyikan kekhawatiranku. Aku memutar arah kursi roda Asna dan kita kembali ke rumah sakit dengan tenang.

(10 bulan terakhir)
Hari ini yang sangat spesial, hari ini ulang tahun Asna. Aku memberikannya satu permintaan dan juga sebuah kue ulang tahun. Permintannya kali ini adalah ia sangat ingin aku buatkan sup rumput laut. Itu yang biasanya disantap orang saat mereka sedang berulang tahun.
Aku tidak tahu bagaimana cara memasaknya tapi untuk adikku aku akan melakukannya. Soal rasa aku tidak yakin. Aku datang ke ruangannya. Asna tidak ada. “Suster di mana Asna?” tanyaku pada salah satu perawat. “Asna kristis dia sedang menjalani perawatan bersama beberapa dokter.”
Aku menyimpan tas jinjing dan kue milik Asna. Dan langsung berlari menuju Asna berada. Dari balik kaca besar aku melihat ia dengan beberapa alat terpasang di tubuhnya. Aku ingin menangis.
“Asna sadarlah kita rayakan ulang tahunmu bersama,” batinku.
Sampai malam tiba dia juga belum sadar. Dua hari sudah berlalu aku selalu menemaninya.
Dan hari ini pun Asna sadar. Aku tersenyum melihatnya. “Kakak mana kue dan sup rumput laut yang kau janjikan?”
Sial!
Bagaimana ini Asna sama sekali tidak tahu kalau ia tidak sadarkan diri selama dua hari. Ia masih berpikir ini hari ulang tahunnya.
“Aku minta maaf, Dek. Aku tidak punya uang.” Alasan yang bodoh.
“Ah, benarkah? Maafkan aku, kak, karena meminta hal yang banyak,” ucapnya dengan raut yang sedih.
“Tidak apa, maafkan aku karena tidak menepati janji.”
Dia tersenyum.
“Engga apa-apa, Kak.” Aku memeluknya. “Selamat ulang tahun adikku.” Ah aku sangat sedih jika ia meninggalkanku, tolong jangan tinggalkan aku.
Sebuah fakta mengejutkan mematahkan perasaanku. Asna semakin parah. Dia semakin sakit. Hanya tersisa 4 bulan ia hidup di dunia, jikalau saja ia tak parah, ia masih mempunyai 9 bulan sisa waktu untuknya.
Aku tidak berani menemuinya. Aku tidak bekerja, aku hanya menangis hari itu di kamarku. Apalagi jika aku ingat setiap perkataan tulusnya padaku.
“Kakak jika diriku akan sembuh aku juga akan memberikan setiap permintaan untukmu.”
“Kakak kau pasti bertambah sangat cantik dan kau kakakku yang sangat baik.”
“Kakak selalu sabar menghadapiku.”

Tuhan aku tidak ingin Asna pergi. Kenapa kau harus memanggilnya secepat itu? Aku benar benar sudah gila, dokter macam apa yang meninggalkan sebuah tanggung jawabnya.
Maaf Asna aku hanya mau menenangkan diriku hari ini saja.
“Tuhan aku mohon jangan ambil nyawa adikku secepat itu, aku masih ingin melihatnya bahagia.” Ucapku disertai dengan air mata yang terjatuh dipipiku.

(empat bulan terakhir)
Ini adalah 4 bulan terakhirnya. Sampai sekarang ia tidak tahu apa sakit yang ia alami sebenarnya. Ia hanya menurut padaku saat melakukan semua serangkaian pengobatan. Asna memintaku untuk mecetak foto kita bersama dan memajangnya di bingkai foto. Dia memajangnya di dinding ruangannya. Aku semakin sedih. Aku akan kehilangannya, adikku.
Aku berharap setiap saat sebuah keajaiban yang datang pada Asna.

(tiga bulan terakhir)
Seseorang perawat mendatangiku dan berkata Asna sedang marah besar dan mengacaukan kamar tempat ia dirawat. Aku berlari masuk ke ruangannya. Baru aku datang sudah disambut dengan lemparan barang-barang. Aku memeluknya dengan sangat erat, sangat.
“Asna stop!!!” Baru pertama kalinya dalam hidupku meneriaki dan menegur adikku sekeras ini.
“Kenapa tidak ada yang beri tahu aku jika aku tidak akan sembuh?!”
Siapa orang sialan yang berani memberitahunya? Dia menangis, dia membalas pelukanku. Kita menangis bersama. “Maafkan kakak, aku tidak ingin membuat dirimu stres.” Aku tidak tahu harus berbuat apa.
“Kenapa kau menyembunyikan semua dariku?! Kau bohong padaku selama ini! Kau merusak semua harapanku selama ini! Dan kau merusak masa depanku untuk kembali bersekolah!”
Oh, Ya Tuhan apa yang harus aku lakukan? Ini semua sudah terlambat.

(dua bulan terakhir)
Semakin sedikit waktu yang tersisa. Sisa sedikit permintaan yang akan kuberikan kepada Asna.
Aku masuk ke ruang tempat ia dirawat, Asna sudah tidak seperti biasanya lagi ia tidak seceria dulu dan tidak seaktif dulu lagi.
“Kakak kau datang?” tanyanya dengan melas.
“Iya aku datang.” Aku duduk di dekatnya memperlihatkan setiap detail wajahnya. Membelai lembut wajahnya itu, menyentuh setiap detailnya. Sungguh indah, wajah yang akan kurindukan selama ini. Ia semakin kurus. Mari kita membuat harapan untuknya.
“Hari ini kau mau apa dariku?”
“Ah iya, aku akan meminta hal spesial darimu.”
“Apa itu?” Ia menghela nafasnya.
“Maafkan aku jika aku merepotkan kakak selama aku hidup, dan kemarin aku minta maaf karena aku membentakmu.” Aku memeluknya. Hanya hal sederhana yang ia minta.
“Kau tidak pernah merepotkanku sama sekali, dan soal yang kemarin tidak perlu minta maaf, aku tahu kau sedang emosi.” Aku tidak mau menyadari waktu yang semakin berjalan cepat, menyisakan waktu 30 hari untuk dia.

(satu bulan terakhir)
Aku sangat suka jika tahu ini. Siap atau tidak aku harus menerimanya. “Kakak apakah ini permintaan terakhir?”
“Selalu ada harapan untukmu.” Ia tersenyum dalam sakitnya.
“Aku hanya ingin kau menerima rasa terima kasihku, kau sangat sabar denganku, dari aku kecil hingga aku sudah dewasa kau selalu menemaniku ke mana pun aku pergi, kau yang memberi saran jika aku sedang ada masalah, andai saja kakak bisa membantuku lebih lama lagi di dunia tapi itu mustahil, aku sudah lelah, kak. Aku hanya harus menunggu saat-saat itu datang. Terima kasih, aku sayang kakak.” Aku tersentuh mendengarnya. Aku juga sakit. Tidak adakah lebih banyak hari lagi untuk kita berdua?
Hari itu telah datang. Aku tidak menampakkan diri. Aku ingin bersembunyi dari dunia.
Membutakan mata.
Menulikan telinga.
Membisukan mulut.
Dan menghapus semua memori yang di otakku. Aku tidak mau keluar dari kamar, aku tidak ingin melihat jasad adikku dimandikan dan dimakamkan. Aku tidak kuat. Bisa kudengar dari balik dinding kamar, banyak keluargaku yang datang untuk memberi penghormati terakhir untuk adikku. Di sini aku, di pojok kamar menagis. Aku gagal menyembuhkannya. Aku tidak menerima semua kenyataan ini.
Sudah dua minggu aku tidak bekerja. Banyak orang menghubungiku. Mereka tidak tahu aku di mana. Aku menghilang, aku tidak mau menjadi dokter lagi. Tidak.
Aku menangis sendiri. Berteriak sekeras yang aku bisa, mendeskripsikan bagaimana hancur dan menyedihkannya diriku. Hanya sendiri di pantai, dinginnya suhu menusuk tubuhku. Di tengah malam. “ASNAAA!” Aku meneriaki nama adikku sekeras yang aku bisa. Aku tidak terima. Aku tidak terima dia pergi dengan begitu cepat. Aku kesepian. I’m so lonely.

Aku datang ke rumah sakit. Bukan untuk bekerja sebagai dokter. Namun untuk mengatakan pada atasanku. Aku berhenti. Berhenti sebagai dokter. Orang tuaku kecewa dengan keputusanku? Ya, jelas mereka kecewa denganku, tapi aku tidak peduli ini pilihan hidupku. Tidak ada lagi aku yang selalu ceria dan lembut menghadapi pasienku. Aku merasa tidak berguna menjadi dokter. Aku sudah janji ingin membuat Asna sembuh tapi aku tidak bisa. Aku bukan dokter yang baik.
Bolehkan aku memarahkanku sendiri karena lalai?
Aku ke pantai itu lagi. Di tengah malam. Dengan keadaan tidak karuan. Mataku membengkak karena menangis. Ini semua salahku. Dan aku memutuskan ingin tenang. Dengan cara meninggalkan dunia. Aku sudah lelah. Aku ingin bahagia. Asna tunggu kakak. Aku akan ikut denganmu. Sekarang.
Selesai…